Kehidupan Organisasi di STIE Dharma Andalas ‘MIRIS’

Kehidupan Organisasi di STIE Dharma Andalas ‘MIRIS’

Minggu, 10 November 2013



STIE Dharma Andalas adalah perguruan tinggi swasta yang berdiri pada tahun 1990. STIE Dharma Andalas memiliki enam organisasi mahasiswa yang terdiri dari dua lembaga kemahasiswaan dan empat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Puncak tertinggi organisasi STIE Dharma Andalas dipegang oleh Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM), diikuti oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), serta Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
STIE Dharma Andalas memiliki empat UKM, yaitu UKM Kreasi dan Seni, UKM Mapala, UKM Forum Studi Islam, dan UKPM GALANG. Setiap organisasi saling bersaing dan melebarkan sayapnya di kancah masing-masing. Tapi, semua itu terkendala oleh minimnya berbagai aspek yang dikeluhkan oleh masing-masing organisasi. Banyak organisasi yang menyesalkan minimnya ruangan (sekretariat) yang diberikan oleh pihak kampus kepada mereka.
“Ruangan yang sekarang jauh lebih kecil dibandingkan dengan ruangan lama kita yang telah  dijadikan kelas B 1.5 sekarang.” Ujar Karmen, Ketua DLM.
Ruangan organsisasi yang ditempati DLM, BEM, dan UKM sekarang berukuran kurang lebih 2,5 m x 3 m. Ruangan ini tentu saja tidak efektif bahkan tidak layak untuk rapat anggota atau hal rutin yang dilakukan oleh organisasi pada umumnya. Ruangan ini hanya muat untuk meletakkan barang-barang dan arsip.
“Jika ada rapat anggota kita tidak bisa memakai ruangan UKM, karena ruangan hanya berkapasitas 10 orang. Rata-rata anggota masing-masing organsiasi lebih dari 10 orang, bahkan ada organsiasi yang anggotanya lebih dari 30 orang. Karena keterbatasan tersebut kita terpaksa memakai pelataran ruangan UKM yang tentu saja tidak terjaga kerahasiaan dan keefesienannya.” Ujar Valent, Pimpinan Redaksi UKPM GALANG.
Hal senada juga dirasakan oleh UKM Kress. Mereka terpaksa melakukan rapat didalam ruangan UKM, apalagi jika itu rapat yang bersifat rahasia.
“Biasanya kita memakai ruangan kelas, namun karena ruangan kelas sering penuh, kita terpaksa memakai ruangan UKM. Anggota aktif yang ikut rapat di Kress kurang lebih 25 orang. Bayangkan saja, bagaimana kita brdesak-desakan diruangan yang hanya berukuran 2,5m x 3m tersebut.” Tutur Maulida, Koordinator Divisi Tari, UKM Kress.
Hal itu juga ditambahkan oleh Fadli dan Theemend selaku anggota aktif Kress, bahwa setidaknya kampus memberikan sebuah ruangan khusus untuk rapat. Ruangan yang akan digunakan bergilir oleh semua organisasi.
“Biarlah ruangan sekarang menjadi letak barang atau arsip kita, kalau bisa kita diberi satu ruangan khusus yang kegunaannya memang untuk rapat organisasi. Ruangan tersebut akan digilir masing-masing UKM.” Ujar Fadli.
“Setidaknya jika gedung C telah berdiri kita diberi satu ruangan khusus yang benar-benar untuk Pekan Kreativitas Mahasiswa.” Tambah Theemend.
“Sekarang tidak ada gunanya mempermasalahkan hal tersebut, karena memang tidak ada ruangan kosong yang tersisa. Kita berharapnya, nanti di gedung C akan mengusahakan meminta satu ruangan seperti yang diusulkan teman-teman organisasi, atau akan dilanjutkan oleh BEM periode selanjutnya.” Tegas Hendri, Wakil Presiden BEM.
Sebelumnya, masing-masing organisasi bisa memanfaatkan ruangan kelas untuk rapat anggota. Namun, akhir-akhir ini hal itu terkendala karena penuhnya jadwal perkuliahan serta kapasitas mahasiswa yang over di STIE Dharma Andalas. Mahasiswa bertambah tidak seimbang dengan bertambahnya gedung maupun infrastruktur lainnya. Sehingga aula, ruangan vicon, bahkan kuliah malam pun diberlakukan.
“Maaf dek, tidak ada kelas kosong”. Kata-kata inilah yang sering didengar oleh mahasiswa jika ke bagian sekretariat untuk meminjam ruangan.
Aula yang biasanya digunakan untuk seminar dan kegiatan pun harus dialih fungsikan sebagai kelas perkuliahan. Sehingga, seminar yang dijadwalkan terpaksa harus diundur. Organisasi dituntut untuk aktif namun dipersulit dalam perijinan melaksanakan acara. Jadi, wajar saja sebagian besar mahasiswa STIE Dharma Andalas bersikap apatis. Kita juga tidak bisa menyalahkan organisasi seutuhnya dalam hal tersebut.
“Menurut saya wajar saja mahasiswa Dharma Andalas banyak mahasiswa apatis, kupu-kupu, dan sebagainya. Mereka memang tidak berminat aktif di organisasi karena mereka beranggapan organsiasi tidak ada untungnya untuk perkuliahan mereka, dan organisasi pun tidak pernah melakukan kegiatan-kegiatan besar yang dilakukan oleh perguruan tinggi diluar sana. Namun, tidak bisa menyalahkan organsiasi sepenuhnya, karena mereka tidak diberi wadah oleh kampus, bahkan ijin pun dipersulit.” Ujar Valent, Pimpinan Redaksi.
“Saat kami ingin melakukan parade musik tahun kemaren, sebuah parade musik yang besar, ijin kami dipersulit. Pembantu Ketua bilang iya, eeh Ketua STIE bilang engga’. Padahal kami membawa nama kampus, kita tidak dibayar loh. Nama acaranya ‘Parade Musik Dharma Andalas’ (PARMUDHA). Ijin kami dipersulit karena kami membawa sponsoor tunggalnya rokok. Kami berinisiatif melakukan di Taman Budaya, namun kami dilarang membawa nama kampus. Benar-benar aneh, padahal kita sudah mahasiswa, bukan   anak sekolahan.” Ujar Maulida, UKM Kress.
Karmen juga mengatakan bahwa mereka hanya diberi janji-janji manis oleh pihak kampus di awal penempatan gedung UKM ini, seperti pemberian lemari, area Wifi serta fasilitas untuk masing-masing UKM.
“Menurut saya, masalah rapat itu tergantung kita saja. Seperti apapun ruangan kalau kita nyaman,  itu tidak menjadi masalah. Jika masalah fasilitas, memang masih banyak yang kurang. Seperti lemari permintaan masing-masing UKM. Sebenarnya itu sudah di cek pada saat pendirian ruangan ini. Setelah ruangan ini selesai, ada orang-orang yang mengukur ruangan untuk lemari. Namun,  kenyataannya sampai sekarang lemari tersebut belum ada.  Fasilitas lain pun saya rasa masih kurang, contohnya saja lapangan serba guna untuk atlit. Tapi hal itu terkendala karena halaman depan yang akan digunakan sebagai lapangan parkir. Untuk masalah pelobian sebenarnnya sudah kami bahas pada saat sidang pleno, dan kami juga sudah memasukkan proposal ke atas. Sekarang kita sebenarnya hanya menunggu realisasi. Jadi tidak mungkin juga kita selalu melaporkan hal tersebut ke pihak kampus.”Ujar Mulya Saputra, Presiden BEM.
Keluhan lain juga disampaikan oleh anggota UKM forum studi Islam.
“Tentang minimnya fasilitas mungkin bisa sama-sama kita rasakan sebagai anggota UKM. Ketika akan rapat, jika hanya rapat anggota saja mungkin ruangan UKM masih bisa digunakan. Tapi, ketika ada rapat umum yang dihadiri oleh anggota dari luar kita merasa ruangan kita sangat tidak memadai. Tapi, kita sebagai anggota UKM FSI sudah  merasa bersyukur karena telah memiliki ruangan seperti ini. Mungkin untuk saat ini kita syukuri saja apa yang telah ada.” Ujar anggota UKM FSI.
“Beberapa minggu yang lalu, kita pernah menjadi tuan rumah pada rapat Asosiasi Pers Mahasiswaw Sumatera barat (ASPEM-SUMBAR) yang dihadiri oleh Lembaga Pers Mahasiswa di Sumatera Barat. Kita tidak bisa menggunakan ruangan kelas untuk rapat tersebut, karena memang pada saat itu jadwal perkuliahan sangat padat. Kita terpaksa menggunakan pelataran UKM, tentu saja hal ini tidak layak, memalukan, dan tidak efektif.” Ujar UKPM GALANG.
Semua hal tersebut menggambarkan betapa mirisnya kehidupan UKM pada saat ini. Tidak adanya kepedulian pihak kampus akan masalah ini, seakan-akan menganggap bahwa hal ini bukanlah masalah serius.
”Jika UKM 24 jam, pihak kampus tidak bisa memberikan ijin untuk itu, karena tidak ada didalam aturan Dikti dan kembali lagi tergantung kebijakan dari kampus masing-masing. Jika soal fasilitas, untuk fasilitas kampus saja masih banyak yang kurang, tentu difokuskan dulu satu persatu.” Tutur  Yovina, Pembantu Ketua STIE Dharma Andalas.
Semoga dengan adanya perubahan status kampus dari STIE yang akan menjadi Universitas, keluhan-keluhan ini bisa didengar dan terealisasikan oleh pihak kampus. Inilah yang menjadi harapan besar semua anggota UKM. (Magang-UKPM GALANG 2013)