JURNALIS PEREMPUAN PERTAMA DARI RANAH MINANG -->

JURNALIS PEREMPUAN PERTAMA DARI RANAH MINANG

Jumat, 06 Desember 2013



Di Indonesia ternyata kaya akan sosok-sosok perempuan hebat. Dulunya kita hanya mengenal Kartini saja, sekarang muncul berbagai fakta, bahwa Kartini hanya salah satu dari sosok-sosok perempuan hebat tersebut. Kartini lebih terkenal dikarenakan perjuangannya yang terdokumentasi dengan baik. Melalui surat-surat yang ia kirimkan kepada teman-temannya di Belanda yang berhasil di bukukan dengan judul “Door Duisternis tot Litsch (Habis gelap terbitlah terang)”, serta sekolah yang berhasil dibangunnya setelah 11 tahun wafatnya.
Namun, tidak banyak kala itu yang mengetahui bahwa di Indonesia telah memiliki jurnalis perempuan pertamanya, dari Ranah Minang. Beliau hidup pada zaman Kartini, bahkan lebih muda lima tahun dari Kartini. Beliau adalah Rohana Kudus. Rohana dengan gigih menyuarakan dan menyelenggarakan pendidikan untuk perempuan, bukan untuk menuntut persamaan hak dengan laki-laki, tetapi untuk memantapkan posisi seorang perempuan secara kodrati. Rohana termasuk segelintir dari perempuan pada zamannya yang percaya bahwa diskriminasi adalah perbuatan yang semena-mena dan harus dilawan.
Rohana Kudus dilahirkan pada tanggal 20 Desember 1884 di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ayahnya bernama Muhammad Rasjad Maharadja Soetan dan ibunya bernama Kiam. Rohana yang memiliki nama asli Siti Rohana ternyata adalah kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama yang juga merupakan salah satu founding fathers Indonesia. Rohana juga mak tuo (bibi) dari seorang peyair terkenal yang dimiliki oleh Indonesia, sebagai penyair pelopor angkatan 45.
Tidak hanya itu saja, Rohana Kudus juga memiliki sepupu, yaitu H. Agus Salim, tokoh yang pernah menjabat sebagai Duta besar Republik Indonesia pertama dan Menteri Luar Negeri dalam kabinet Sjahrir dan Hatta pada tahun 1847-1949. Di lingkungan seperti inilah Rohana dilahirkan dan dibesarkan, di lingkungan yang dikelilingi oleh para tokoh relijius dan cendekia.
Rohana tidak pernah mengenyam pendidikan formal, kemampuan dalam membaca dan menulis ia peroleh langsung dari ayahnya, Mohammad Rasjad Maharadja Soetan. Mohammad Rasjad bekerja kepada Belanda sebagai pegawai pemerintah. Mohammad Rasjad juga merupakan pencetus dari berdirinya Sekolah Rakyat khusus bagi pribumi di Koto Gadang.
Rohana menikah pada usia 24 tahun dengan seorang notaris yang bernama Abdul Kudus. Pada tanggal 11 February 1911 Rohana mendirikan sebuah sekolah kerajinan dengan nama, “Sekolah Kerjinan Amai Setia”.
Dengan kecerdasan, keberanian, pengorbanan, serta perjuangannya Rohana melawan ketidakadilan untuk perubahan nasib kaum perempuan. Rohana adalah seorang perempuan yang mempunyai komitmen yang kuat tentang pendidikan, terutama pendidikan untuk kaum perempuan. Rohana mengatakan dengan tegas bahwa zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki.
Perjuangan Rohana tidak berhenti hanya pada pembuatan Sekolah Kerajinan Amai Setia. Rohana ingin mewujudkan impiannya yang lain, yaitu mendirikan sebuah surat kabar. Karena kegemarannya membaca dan menulis membuatnya menyukai dan melirik dunia jurnalistik. Rohana gemar menulis artikel-artikel yang mengungkapan gagasan-gagasan cemerlangnya, bahkan banyak yang menyukai tulisannya.
Hobi membaca dan menulis inilah yang mengantarkan Rohana menjadi seorang jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Rohana berhasil mewujudkan impiannya untuk mendirikan sebuah surat kabar Sunting Melayu pada tanggal 10 Juli 1912.
Surat kabar ini terbit atas kerjasama Rohana dengan Dt. St. Maharaja, pimpinan redaksi Utusan Melayu. Rohana bernegosiasi melalui korespondensi surat menyurat. Rohana meminta agar surat kabar yang dipimpin oleh Dt. St. Maharaja dapat menyediakan rubrik-rubrik khusus untuk membicarakan masalah perempuan. Sekaligus menawarkan untuk menerbitkan sebuah surat kabar khusus perempuan. Mulai dari Pimpinan Redaksi, Redaktur, sampai ke wartawannya dikelola oleh perempuan.(valent)